Saturday, January 21, 2012

APAKAH BAROKAH ITU?


Oleh: Hanung Hisbullah Hamda, SH., M. Pd.I
Segala puji hanya milik Allah SWT, Dzat yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan dan keberkahan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Allahumma Amiin.
Kita pasti sudah sering mengucapkan, mendengar, mengharap dan berdoa untuk mendapatkan barokah atau keberkahan. Keberkahan yang kita maksud mungkin keberkahan dalam umur, keberkahan dalam ilmu, keberkahan dalam keturunan, keberkahan dalam keluarga, keberkahan dalam usaha, keberkahan dalam harta benda, dan sebagainya. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya, "Apakah sebenarnya keberkahan itu? Bagaimana keberkahan atau barokah itu dapat diperoleh?"
Apakah berkah itu adalah wujud dari “berkat” yang sering dibawa orang setiap kali menghadiri kenduri, undangan hajatan atau pesta? Mungkinkah keberkahan itu hanya milik para kiyai, atau tukang ramal, juru-juru kuncen kuburan, sehingga bila salah seorang dari kita memiliki suatu hajatan, ia datang kepada para kiyai, tukang ramal atau juru kunci kuburan tersebut untuk “ngalap berkah” supaya apa yang kita inginkan tercapai?
Para alim sering mengartikan  berkah atau barokah sebagai 'karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia atau doa restu dan pengaruh baik yang mendatangkan selamat serta bahagia dari orang yang dihormati atau dianggap suci (keramat)'[1], orang yang dihormati tersebut bisa guru, orang tua atau ulama dan kiai.
Barokah, secara lughawy (etimologis) bermakna ziyadah (bertambah) atau an-numu (tumbuh).  Artinya bahwa segala sesuatu yang diberkahi Allah akan bertambah dan menumbuhkan sesuatu yang positif.  Sebagai contoh, ketika rezeki yang kita terima ini “barokah” maka harta kita akan semakin bermafaat, makin memberikan ketenangan hidup, dan harta itu benar-benar membuat kita semakin dekat pada-Nya. Berkah atau Al Barokah bila kita pelajari melalui ilmu bahasa arab atau melalui dalil-dalil dalam Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya kita akan mendapatkan bahwa ia memiliki kandungan dan pemahaman yang sangat luas dan agung. Secara ilmu bahasa, Al Barokah juga bermakna “Berkembang, bertambah dan kebahagiaan”.[2]
Barokah juga sering dimaknai sebagai 'ziyadatul khair 'ala al ghair' (sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama). Pengertian ini sangat luas cakupannya dan dapat diterapkan secara luwes, tergantung konteks yang kita kehendaki. Misalnya, bila dikaitkan dengan ilmu dan guru maka yang dimaksud berkah adalah ilmu itu sendiri serta doa restu dan pengaruh baik serta kebahagiaan yang datang setelah kita belajar dan berbakti kepada guru atau kiyai. Menurut An Nawawi, Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.[3]
Ar-Raghib Al-Asfahanny mendefinisikan berkah sebagai berarti tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mendefinisikan berkah sebagai kenikmatan atau tambahan. Masih menurut Ibnul Qayyim, berkah mengandung hakikat sebagai kebaikan yang banyak dan terus menerus yang tidak berhak memiliki sifat tersebut kecuali Allah SWT. Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengartikan barokah sebagai kebaikan yang banyak dan tetap.
Berlandaskan pada makna-makna tersebut di atas kita dapat mengambil
sebuah kesimpulan bahwa barokah atau keberkahan adalah suatu
sifat yang di dalamnya mengandung kebaikan. Barokah bisa berkaitan dengan harta, amal perbuatan atau ucapan, tempat atau rumah, dan waktu. Di samping itu harus dipahami pula bahwa kadang-kadang satu perkara bisa mengandung banyak aspek keberkahan, seperti makan sahur adalah perkara yang setidaknya mengandung dua aspek keberkahan, yaitu keberkahan dalam hal perbuatan dan keberkahan dalam hal waktu pelaksanaan.
            Jadi sudah jelas bahwa makna barokah bukan hanya menunjuk pada sekotak nasi yang sering dibawa orang sepulang dari pengajian tahlilan, hajatan, atau undangan pesta. Barokah adalah kebaikan yang banyak atau kebaikan yang tetap dan tidak hilang dan barokah hanya berasal dari Allah (tidak dari orang-orang yang telah meninggal dunia) dan barokah hanya diberikan Allah kepada hamba atau sesuatu atau makhluk yang dikehendaki-Nya. Misalnya, Al Qur’an mengandung barokah yaitu jika kita mau membaca, memahami dan mengamalkannya.
Sering kita mendengar dari pak kiayi, orang tua kita, atau guru kita yang mengucapkan “Semoga ilmu yang kamu pelajari berkah ya nak”. Maksud dari ucapan ini adalah semoga ilmu yang  dipelajari itu diberi kebaikan oleh Allah, baik bagi pemilik ilmu sendiri ataupun orang lain, sehingga orang lain pun bisa mengambil manfaat banyak dari ilmu tersebut.
Sering juga kita mendengar seseorang mengucapkan demikian kepada anda “semoga Allah selalu memberkahimu” maka maksud dari ucapan itu adalah semoga Allah selalu mendatangkan kebaikan bagi anda. Semoga dengan itu anda dicintai banyak orang, anda menjadi orang yang sabar, anda memperoleh rezeki yang halal dan melimpah, anda mempunyai ucapan lisan yang bagus dan akan didengarkan orang, anda istiqomah dalam mejalankan Islam, anda mendapatkan pekerjaan yang baik dan segala bentuk kebaikan-kebaikan lain yang jumlahnya tak terhitung jumlahnya.(Hanung Hisbullah Hamda, SH, M.Pd.I)


[1] Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi tiga terbitan Balai Pustaka 2005
[2] Al Misbah Al Munir oleh Al Faiyyumy 1/45, Al Qomus Al Muhith oleh Al Fairuz Abadi 2/1236, & Lisanul Arab oleh Ibnu Manzhur 10/395.
[3] Syarh Shohih Muslim oleh Imam An Nawawi 1/225.

No comments:

Post a Comment

Silahkan berpendapat

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=167022424766684&id=100043767822547